• 031 - 5341229

  • admin@smpwachidhasyim4sby.sch.id

1 Muharram 1439 H
Ruang CBT Sync SMP WACHID HASYIM 4
CIKAL BAKAL MADRASAH KAWATAN VI pada Tahun 1916
Layanan Pembelajaran Berbasis Komputer
Pasca Akreditasi bersama Ketua yayasan bapak Choirul Umam, S.Pd, SH, MH
Praktek Pembelajaran di Luar Sekolah : Kunjungan ke Home Industri Tempe

Riwayat Gedung


A. RIWAYAT SINGKAT GEDUNG SEKOLAH KAWATAN VI  NOMOR 22.


Pada Tanggal 10 Nopember 1915, para dermawan antara lain : KH. Kahar ; Jalan Pasar Besar, H. Ibrahim ; jalan Bubutan 88, H. Abd. Manan ; jalan Bubutan 86 dan H. Dahlan jalan Ketapang 6 Surabaya bermufakat untuk membangun gedung Sekolah di Kampung Kawatan VI nomor 22 Surabaya.

Pada tanggal 16 Januari 1916, Pembangunan dimulai dan selesai pada tanggal 29 Januari 1917. Kemudian dibuka Sekolah dengan nama NAHLATUL WATHON, muridnya cukup banyak dan khusus laki-laki dengan Kepala Sekolah KH. Abd. Kahar dan dibantu oleh KH. Mas Mansur. Gedung tersebut diberi nama Nahlatul Wathon dan disingkat NW. Ditunjuk sebagai Nadir ialah K.H. Abd. Kahar. Setelah KH. Kahar wafat pada tahun 1928, jabatan Nadir pindah ke tangan H. Ibrahim jalan Bubutan 88 dan H. Manan jalan Bubutan 86 Surabaya. Sedangkan jabatan Kepala Sekolah sepenuhnya dipegang oleh K.H. Mas Mansur. Sebelum Jepang datang, K.H. Mas Mansur karena sesuatu atau lain hal mengundurkan diri dari Nahdlatul Wathon dan membuka Sekolah sendiri di tempat lain. Pimpinan sekolah pindah /digantikan oleh K.H. Mas Alwi dan K.H Ridlwan. Setelah K.H. Mas Alwi wafat maka Pimpinan dioegang sepenuhnya oleh K.H. Ridlwan.

Ketika K.H. Fatchur Rochman datang dari Mesir dan beliau mendirikan Sekolah di Tuban dengan nama Al Hidayah, di dalam tubuh kepengurusan Nahdlatul Wathon terjadi ketidak kompakan, karena sebagian dari pengurus ada yang ingin mengarahkan Nahdlatul Wathon bercabang ke Al Hidayah dengan alasan bahwan Al Hidayah jauh lebih maju. Sehingga setiap akhir tahun ajaran, anak-anak yang dinyatakan tamat dianjurkan dan diarahkan untuk melajutkan ke sana.

Ketidak kompakan ini terus berkelanjutan, sehingga K.H. Ridlwan sebagai Kepala Sekolah mengundurkan diri dan membuka Sekolah sendiri di jalan Tembaan dan diberi nama Sekolah Nahdlatul Ulama. Sekolah yang dibuka oleh K.H. Ridlwan ini banyak juga peminatnya, sehingga memerlukan tempat yang lebih besar. Oleh beliau Sekolah ini dipindahkan ke Bubutan II dan kemudian ke Bubutan IV nomor 2. Muridnya terdiri dari putra dan putri.

Setelah K.H. Ridlwan mengundurkan diri dari Nahdlatul Wathon, pengurus menunjuk Pak Widjajadi ( Pak Dono) untuk menggatikan sebagai Kepala / Pimpinan sekolah. Sejak itulah keadaan Sekolah Nahdlatul Wathon mulai suram dan muridnyapun semakin berkurang. Menjelang Jepang datang muridnya habis sama sekali, sehingga Sekolah praktis tutup.

Melihat keadaan Sekolah yang sebesar dan sebaik itu kosong, maka NU memintanya untuk memindahkan murid-murid putri yang selama itu tempat belajarnya di Bubutan VI nomor 2. Karena pecah Revolusi Sekolah ditutup dan para penduduk Surabaya semua mengungsi ke Luarkota. Ketika persetujuan Linggar Jati ditanda tangani, maka penduduk Surabaya mulai berdatangan kembali. Timbullah kehendak untuk membuka kembali Sekolah itu untuk memberi kesempatan bersekolah bagi anak-anak penduduk yang berdatangan dari mengungsi itu. Hal ini terjadi sekitar tahun 1947.

Pada tangggal 23 Nopember 1947, bertepatan tanggal 10 Muharrom 1367 H, H. Abd Wahab membuka Sekolah yang berlangsung sampai sekarang dengan segala perkembangan dan kemajuannya. H. Abd Wahab ketika akan membuka Sekolah, juga memberitahukan kepada pejabat pada waktu itu, yaitu Agen Huseeting yang berkedudukan di Surabaya. Sebelum Sekolah dibuka oleh H. Abd. Wahab, keadaan gedung banyak yang rusak akibat dari pecahnya Revolusi. Pintu pintunya banyak yang Hilang dan Bangkunya habis sama sekali karena diambili oleh tentara Gurga.

H. Abd. Wahab dengan bantuan H. Machin Kawatan VI, memperbaiki kerusakan itu dan menghubungi H. Thoyib Abadi untuk mendapatkan bangku-bangku  dan peralatan lainnya. Sekarang semua aktifis dan para pendiri gedung serta para Nadir sudah wafat semua, tinggal satu-satunya yang ada ialah H. Abd. Wahab sekalu kuasa Nadir yang memegang wewenang dalam pemeliharaan dan pengelolaan gedung/ Sekolah tersebut.

 

A. RIWAYAT SINGKAT GEDUNG SEKOLAH KAWATAN VI  NOMOR 17.


Gedung tersebut semula (pada jaman penjajahan Belanda) adalah Langgar dan Pondok yang diasuh oleh K.H. Hasjim yang sekarang makamnya ada disebelah utara gedung tersebut. Pada jaman Revolusi gedung tersebut rusak total karena kajatuhan Bom.

Bersamaan dengan dibukanya kembali Sekolah pada tanggal 5 Januari 1948 dengan jumlah murid yang sangat melimpah sehingga ruang yang tersedia tidak mampu menampung, maka timbul gagasan untuk membangun kembali gedung tersebut. H. Abd. Wahab ( kepala Sekolah) alamat peneleh IX/42, Pak Kasman ( Sekretaris NU) alamat kampung Kalongan, H. Aziz Diyar ( Ketua Ma'arif ) alamat Jalan Jagalan, H. Machfud alamat Jagalan VIII dan H. Faqih alamat Praban II selaku Panitia Pembangunan Gedung mengambil langkah-langkah sebagai berikut :

1. Agar NU memintakan bantuan kepada pemerintah melalui Dewan Islam yang pada waktu itu dipegang oleh K.H. Yasin dari Malang dan K.H. Hasjim dari Pasuruan. Permintaan bantuan ini dikabulkan sebesar Rp. 8.000,00. Uang Rp.8.000,00 ini tentu saja belum cukup. Kerena itu pelaksanaan pembangunan terpaksa ditunda dulu sambil menunggu datangnya sumbangan dari pihak lain.

2. Ketika H Ichsan alamat jalan Pingadi (Perusahaan Bis Laksana Jaya) membongkar rumah-rumah di Kampung Kalisari, Oleh Pak Kasman ditemuinya untuk diminta sumbangan. Oleh H. Ichsan dijawab, kalau menyumbang uang tidak dapat, tetapi kalau material silahkan mengambil sebanyak-banyaknya dari bongkaran rumah-rumah itu.

3. Dengan Uang sebesar Rp.8.000,00 da bahan material dari bongkaran rumah-rumah tersebut akhirnya terwujudlah gedung Sekolah yang dimaksud.

4. Ketika H. Ichsan melihat bahwa tanah di sebelah Timur gedung yang telah selesai dibangun itu masih cukup luas untuk didirikan gedung sekolah, maka ia menyarankan untuk diteruskan banguan itu dengan mengambil material dari bongkaran rumah-rumah tadi.

5. Untuk Ongkos tukang dan lain-lain, panitia mengambil inisiatif untuk mengadakan sumbangan berhadiah.

6. setelah pembangunan berlangsung, ternyata keuangan habis. Panitia pinjam ke Bank dengan menggunakan borg rumahnya H. Faqih Praban II. Dari Bank diperoleh uang sebesar  Rp. 8.000,00. Rp. 6.000,00 dari uang tersebut digunakan untuk meneruskan bangunan dan sisanya diberikan kepada H. Faqih. Akhirnya dengan uang tersebut, pembangunan dapat berjalan lancar samapai selesai.

7. Untuk mngembalikan uang ke Bank, H. Abd. Wahab, H. Aziz Diyar, Pak Kasman dan H. Machfud bersama-sama mengadakan urunan setiap bulan. tetapi tidak dapat menjangkau untuk mengembalikan pinjaman sebesar itu.

8. Ketika Pemilu I tahun 1955 akan berlangsung, Pak Syaichu selaku Ketua Lapunu ( Lajnah Pemilihan Umum NU ) merencanakan untuk memperbanyak tanda gambar NU. Pak Kasman yang mempunyai kenalan baik dengan perusahaan percetakan Style, menemui Pak syaichu dan meminta agar Pak Kasman diberi kepercayaan untuk mencetak tanda gambar tersebut. Dari hasil keuntungan inilah, pinjaman Panitia ke Bank tersebut dapat dibayar lunas.

9. Oleh Panitia, gedung tersebut diserahkan kepada Ma'arif cabang Surabaya dan diterima oleh ketuanya yaitu bapak H. Aziz Diyar. Kemudian oleh Ma'arif diserahkan pengurusan dan pengelolaannya kepada H. Abd. Wahab selaku Kepala Sekolah. Upacara serah terima ini disaksikan oleh bapak Ansor masyarakat, bapak K.H. Ridlwan sebagai Ulama dana lain-lain.

Sekarang kedua gedung tersebut ( nomor 22 dan nomor 17) dengan pengawasan dan Bimbingan bapak. H. Abd Wahab ditempati :

     - TK. Halimah

     - SD Halimah

     - SMP Wachid Hasjim dan 

     - Madrasah Aliyah Wachid Hasjim.

Surabaya, 4 Robiul Awal 1404 H.

7 Desember 1983 M.

 


 == salinan dikutip dari Arsip kelembagaan Ma'arif dan Yayasan Wachid Hasyim  surabaya ==


 

Bagikan :

File Download